Bertemu Ibu Indra Tjahjani di pameran batik Jawa Barat yang berlangsung di Museum Tekstil Jakarta mestinya sebuah hal yang sudah terduga mengingat Bu Indra adalah sosok yang lekat dengan batik. Buat para penggemar batik, perempuan berusia menjelang 60 tahun ini tentu sudah sangat dikenal. Penampilannya yang selalu khas--berkebaya dan berjarit batik--merupakan wujud kecintaannya kepada wastra Nusantara, khususnya batik.
Pertemuan pertama saya dengannya terjadi beberapa tahun yang lalu di Komunitas Salihara, Pasar Minggu. Lalu disusul pertemuan berikutnya di Museum Bank Mandiri Kota dalam sebuah pameran batik Madura.
Selain menggemari batik, Ibu Indra juga mahir membatik. Bagi yang ingin belajar membatik, silakan berguru kepada beliau.
Kamis, 24 Oktober 2013
Sabtu, 17 Agustus 2013
LERAK SAHABAT BATIK
Setiap mendengar atau membaca
kata “lerak” (nama latinnya Sapindus rarak dc) yang teringat di kepala saya
adalah batik. Kelekatan keduanya hampir mirip seperti semir dan sepatu. Tapi
banyak juga sih yang belum tahu lerak, termasuk saya, belum pernah melihat buah
yang dikenal juga dengan sebutan
soapberry itu.
Lerak adalah sejenis tumbuhan
yang bijinya digunakan sebagai bahan pembuat sabun. Dahulu sekali, sabun
tradisional dari lerak ini dipakai untuk mencuci kain dan baju, terutama batik,
karena dipercaya dapat menjaga kualitas dan warna batikan awet lebih lama.
Sampai sekarang lerak masih dianggap sebagai bahan pencuci batik terbaik,
sehingga mulai banyak diproduksi untuk konsumsi masyarakat luas. Apalagi kini
batik tengah naik daun, permintaan akan lerak pun meningkat. Dan berlakulah
hukum supply and demand.
Biji lerak yang mirip kurma ini mengandung
saponin yang dapat berfungsi sebagai deterjen pembersih, bukan hanya kain batik
tetapi juga perkakas dapur. Limbahnya pun ramah lingkungan, tidak mengandung
bahan kimia yang berbahaya.
Selain itu, menggunakan sabun
lerak lebih irit dibanding deterjen biasa. Satu tutup botol kecil (botol aqua)
lerak bisa untuk mencuci 3-4 helai kain batik. Campurkan lerak ke dalam
setengah ember air dan rendam kain selama 10-15 menit. Lalu kucek-kucek kain
dengan gerakan lembut. Bilas dengan air hingga busanya hilang, lalu jemur di
tempat teduh.
(Diolah dari berbagai sumber).
Senin, 05 Agustus 2013
PADUAN BATIK & JINS
Meskipun eksistensi dan kemuliaan batik telah diakui dunia internasional, masih banyak juga orang Indonesia yang enggan pakai batik. Biasanya kalangan anak muda. Bermacam-macam alasan mereka. Modelnya kuno lah, nggak gaul lah, kayak orang tua lah, dan lain-lain.
Alasan tersebut sepertinya cuma dalih, karena sejak dulu, apalagi sekarang, sudah banyak batik bermotif kontemporer dan modern sehingga bisa dikenakan anak-anak muda dan gaul. Para perancang mode juga sudah banyak mencipta kemeja kasual berbahan batik.
Misalnya, dipadu-padankan dengan denim dan jins. Walaupun motifnya klasik, tetap trendy dan modis karena pilihan warna dan modelnya yang kasual. Bahkan untuk anak-anak pun oke.
Dan bukan cuma kemeja, jaket batik juga tak kalah keren. So... batik? Kenapa nggak?
Alasan tersebut sepertinya cuma dalih, karena sejak dulu, apalagi sekarang, sudah banyak batik bermotif kontemporer dan modern sehingga bisa dikenakan anak-anak muda dan gaul. Para perancang mode juga sudah banyak mencipta kemeja kasual berbahan batik.
Misalnya, dipadu-padankan dengan denim dan jins. Walaupun motifnya klasik, tetap trendy dan modis karena pilihan warna dan modelnya yang kasual. Bahkan untuk anak-anak pun oke.
Dan bukan cuma kemeja, jaket batik juga tak kalah keren. So... batik? Kenapa nggak?
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)